Senin, 26 November 2012

[budaya_tionghua] Zhong Qiu Dalam Sastra (Sumbang tulisan)

 

Di bawah ini tulisan lama yang pernah dimuat di "Suara Baru", tapi saya update kembali dengan tambahan bahan2 baru. Semoga bermanfaat.


Zhong Qiu Dalam Sastra
 Penulis : Zhou Fuyuan
 
 
Hari Raya Tiong Chiu ( Zhong Qiu Jie 中秋节) atau Festival Tengah Musim Gugur selalu berkaitan erat dengan kehadiran bulan purnama. Bagi masyarakat Tionghoa, bulan purnama melambangkan kesempurnaan sekaligus kebahagiaan. Bulan purnama begitu bulat sempurna, bulat dalam bahasa Mandarin adalah 'yuan', kata ini juga di pakai dalam kata mejemuk 'tuan yuan,' secara harafiah berarti bulat berkumpul untuk mengungkapkan kondisi pertemuan keluarga, kekasih atau sahabat yang telah lama terpisahkan. Dalam tradisi aslinya, pada saat Zhong Qiu Jie seluruh keluarga diharapkan dapat berkumpul, makan bersama dalam satu meja di bawah bulan purnama atau 'da tuan yuan' ( pertemuan akbar paripurna ).
 
Zhong Qiu Jie dan bulan purnama merupakan tema yang sering muncul dalam sastra Tiongkok, khususnya dalam puisi klasik. Bertolak belakang dengan suasana riang yang selalu menyertai perayaan Zhong Qiu Jie (musim gugur), puisi-puisi ini kebanyakan menghadirkan suasana murung. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat pada saat menulis sang penyair umumnya sedang sendiri, terpisah jauh dari keluarga. Kehadiran bulan purnama hanya menimbulkan perasaan rindu dan menambah rasa sepi.
 
Pada saat perjalanan hidup dan karier politiknya mengalami goncangandalam pengasingan penyair ternama Dinasti Su Shi (Song Su Dongpo) 苏东坡,menulis sebuah syair Zhong Qiu yang sangat terkenal. ditulis sehabis mabuk berat dalam perjamuan Zhong Qiu, syair ini  ditujukan untuk adiknya di jauh Dalam tulisannya, dia sempat berkhayal untuk melarikan diri dari dunia nyata yang sangat mengecewakan,  rembulanlah yang menjadi tempat pelarian. Rembulan menjadi lambang  dari pasang surutnya kehidupan, lewat rembulanlah dia menitip rasa rindu pada saudara yang lama terpisah.
 
TENGAH  MUSIM  GUGUR
Su Shi ( 1036-1101 ; Song )

Kapan saatnya ada bulan purnama?
angkatlah arak tanyailah biru angkasa.
Entah menara istana yang di atas khayangan,
malam ini sesungguhnya tahun berapa?
 
Kuingin pulang menumpang angin,
hanya takut wisma kumala menara manikam,
di ketinggian dingin tak tertahankan!
Bangkitlah menari mereka tajam bayangan,
adakah tempat yang menyamai bumi insan?
 
Paviliun merah dikitari,
jendela kerawang dituruni,
yang berjaga teruslah disoroti.
Seharusnya tak menyimpan dendam,
mengapa selalu membulat saat insan terpisahkan?
 
Manusia ada suka duka pisah jumpa,
bulan ada bulat rompal terang buram,
sejak dahulu adakah yang sempurna?
Semoga manusia abadi senantiasa,
ribuan kilo berbagi Dewi Rembulan.
 
( Syair di atas pernah dinyanyikan dalam versi Pop Moderrn oleh penyanyi Theresa Deng dengan judul Dan Yuan Ren Chang Jiu )
 
Penulis Tiongkok modern Ba Jin  ( 1904- ) dalam satu esainya pernah menyatakan, dia membenci bulan purnama, karena kehadirannya selalu menjadikan manusia lemah dan melankolis. Pada saat revolusi, banyak anak muda dengan gagah berani meninggalkan kampung halaman, dengan tegas memutuskan ikatan dengan keluarga feodal yang coba membelenggu mereka. Namun pada saat mengalami kesulitan hidup, kehadiran bulan purnama membuat mereka rindu kembali kepada semua kenyamanan yang pernah mereka miliki di rumah. Sebagian dari mereka menjadi patah semangat, dan memutuskan untuk kembali ke kehidupan lama yang mapan. Bagi perantau, bulan purnama selalu mengingatkan kampung halaman, maka tidak mengherankan kalau puisi Rindu Malam-nya penyair Li Bai ( 701 – 762 ) dari Dinasti Tang menjadi sangat terkenal di kalangan Hoa-kiau di seluruh dunia.
 
RINDU  MALAM
Li Bai ( 701-762 ; Tang )
 
Sinar purnama di depan pembaringan,
embunkah yang membeku di pelataran?
Tengadah menatap rembulan purnama,
tertunduk mengingat kampung halaman.
 
Masih dalam kerinduan yang sama, penyair Wang Jian 王建bertutur tentang rindu musim:
 
REMBULAN  LIMA  BELAS  MALAM 
Wang Jian ( 766?-830? ; Tang )
 
Pelataran tengah memutih gagak berdiam di dahan,
embun dingin tanpa suara membasuh bunga lawang.
Malam ini seluruh insan menatap terang rembulan,
rindu musim gugur menimpa rumah siapa gerangan?
 
Penyair Tang juga banyak yang bertugas sebagai pejabat kerajaan. Mereka sering harus menjelajah ke gurun utara yang gersang, bisa dibayangkan kegelisahan yang muncul saat melihat bulan purnama. Lihatlah bagaimana penyair perbatasan Cen Can 岑参merenung.
 
TULISAN  DI  GURUN
Cen Can ( 715-770 ; Tang )
 
Kuda menapaki langit hendak jalan menuju barat,
berpamit ke rumah telah dua kali bulan membulat.
Malam ini belum tahu di tempat mana menginap,
ribuan kilo pasir menghampar asap manusia lenyap.
 
Puisi tentang bulan purnama juga dapat menjadi sebuah puisi cinta, penyair dinasti Tang,  Zhang Jiuling 张九龄melukiskan kerinduan dan kesepian seorang wanita yang berpisah jauh dari kekasihnya, juga dengan latar-belakang bulan purnama.
 
MERINDUKAN  YANG  JAUH
Zhang Jiuling ( 678-740 ; Tang )
 
Di atas lautan bangkitlah bulan purnama,
di tepian angkasa berbagi waktu bersama.
Kekasih mengeluh pada malam panjang,
rindu bangkit mendera sepanjang petang.
 
Padamkan lilin sayangilah purna cahaya,
kenakan mantel hindarilah basah embun.
Tak muat di tangan untuk dipersembahkan,
kembali tidur bermimpilah hari pertemuan.
 
Di atas puisi yang ditulis penyair pria mengatas namakan wanita, tentunya akan lebih pas  membaca perasaan wanita lewat puisi yang ditulis mereka sendiri. Bolehlah kita ketengahkan syair karya penyair wanita ternama Dinasti Song Li Qingzhao Li清照。
 
PURNAMA  DI  MENARA  BARAT
Li Qingzhao ( 1084-? ; Song )
 
Padma merah menyisakan wangi tikar hijau menyejukkan,
perlahan melepas mantel sutera,
sendirian menaiki bilah sampan.
Di tengah awan siapa yang mengirim sepucuk surat?
saat barisan belibis pulang,
purnama memenuhi menara barat.
 
Bunga kembara melayang sendiri air mengalir sendiri,
satu rupa rasa rindu,
mengusik di dua kalbu.
Tiada cara memangkas lunas renjana ini,
habis turun dari ujung dahi,
kembali singgah di relung hati!
 
 
Bicara tentang penyair Song, tentu kita tak bias lepas dari nama Xin Qiji 辛弃疾,penyair besar patriotik dengan gaya Lantang. Sesuai dengan wataknya, dia tak lagi berkeluh kesah menatap rembulan, tapi berkhayal lepas melontar cita cita, membersihkan rembulan dari bayang2 adalah juga harapannya terhadap masa depan tanah air.
 
TENGAH  MUSIM  GUGUR  DI  JIANKANG
Xin Qiji ( 1140-1207 ; Song )
 
Roda musim gugur memutar ombak kencana,
cermin terbang kembali diasah sangkala.
Angkatlah arak bertanyalah pada Dewi Bulan,
disiksa uban kepala apakah insan berdaya?
 
Baiklah pergi menumpang angin,
jutaan kilo angkasa memanjang,
lurus ke bawah tanah-air yang dipandang.
Tebanglah pohon lawang yang bergoyang,
insan berujar sinarnya pasti lebih benderang.
 
Dinasti silih berganti, tradisi berpuisi di hari raya Zhongqiu masih terus berlanjut. Bolehlah nikmati sebuah syair Zhongqiu yang indah menyentuh dari penyair Dinasti Ming Xu Youzhen 徐有貞.
 
REMBULAN  DI  TENGAH  MUSIM  GUGUR
Xu Youzhen (14071472Ming)
 
Rembulan di tengah musim gugur,
rembulan setiba di tengah musim gugur begitu jernih bercahaya.
Begitu jernih bercahaya,
adakah yang tahu
berapa kali dia bulat tercoak terang gulita?
 
Bulat tercoak terang gulita tak usah bicara,
nikmatilah hari bahagia di bumi manusia.
Hari yang bahagia,
semoga tahun ke tahun,
sering melihat rembulan di tengah musim gugur bercahaya.
 
Di atas semuanya adalah di dunia  sastra klasik, bagaimana dengan dunia modern? Di sini ada sebuah puisi modern yang ditulis penyair Taiwan Yu Guang Zhong 余光中, masih tentang bulan purnama, hanya bulan sebelumnya, pada saat  Zhongyuan jie 中元节 ( pertengahan bulan ke tujuh imlek ), yang merupakan hari sembahyang kepada arwah para leluhur yang sudah meninggal. Meskipun makna perayaannya berbeda, sejauh menyangkut bulan purnama, ternyata perasaan yang terkandung masih sama. Kita dapat membandingkan puisi ini dengan puisi Rindu Malam-nya Li Bai dan menemukan banyak kemiripan, meski dengan bahasa  keseharian ( bai hua ), kesejajaran makna dan suasana masih cukup jelas terlihat. Boleh dikatakan puisi ini adalah versi modern dari Rindu Malam.
 
REMBULAN  MEDIO  BULAN  KETUJUH
Yu Guang Zhong kontemporer; Taiwan
                                   
Sinar rembulan keperakan memenuhi ranjangku
Masa kecilkah yang mengutus mencariku ?
untuk barang apakah yang sempat tertinggal ?
Entah bagaimana kutak dapat mengingat kembali
hanya nampak dalam sorot  mata yang mencurigakan, sepotong lengan
milikikkukah, tenggelam di dasar air
Sepotong fosil yang masih harus menunggu kematian
 
Cahaya yang jernih begitu berharga, apalagi lelap tertidur
bukankah menyia-nyiakan dewi rembulan, dosa kepada keindahan?
Tiba-tiba kubalik badan menghadap  ke  luar
dan langsung bertubruk muka dengan bulan purnama
Oh, yang hilang sembunyi tak sempat  menghindar
seketika ada berapa yang pecah tertubruk ?
Yang lebih mengejutkan adalah sinar rembulan
menembus melewatiku, tak meninggalkan bayangan
Di luar ku mendengar masa kecil memanggilku
bayangan pohon bergoyang, aku membuka jendela menanggapi
Seketika angin bertiup mengapit daku pergi
melayang-layang menuju keping cermin bulan iblis itu
sepanjang jalan senantiasa berhembus
 
Terakhir, boleh kita simak puisi Tionghoa modern yang digubah oleh penyair Tionghoa Indonesia Yu Erfan 于而凡, yang merupakan dekonstruksi dari puisi Su Dongpo. Di sini terlihat, walau tersekat oleh sungai waktu oleh gelombang samudra, tradisi budaya masih terus berlanjut.
 
TENGAH  MUSIM GUGUR
Yu Erfan ( kontemporer; Indonesia )
 
Bulan purnama tahun ke tahun ada
masihkah kau menerawang seperti dulu?
Kehadiran tamu profan
telah memaksa pergi
lelaki penebang di gedung kumala
wanita kesepian di loteng manikam
Bandul lonceng ------
sepertinya juga berhenti mengalun
 
Meski sanggup menahan dingin
tiada lagi rumah untuk kita terbang menuju
Bayangan tajam di bumi manusia
telah menjadi beku oleh kabut debu
Orang orang ------
lama tak menari dan bernyanyi
 
Bulan purnama tahun ke tahun ada
masihkah kau terpana seperti dulu?
Seribu kilo jarak hanyalah sekejab
Rembulan ------
tak lagi bergoyang di hati manusia
Cahya dingin yang menembus waktu tak berdaya
kembali menggenapi ramalan musim gugur orang Song
muram jatuh ke pelopak mataku yang terjaga
 
Jauh meninggalkan kemelut pisah bersua
lama membekukan rasa duka gembira
Aku pun tak lagi
ngilu hati dengan bulat cacat piring cahaya
Yang kusesali -------
cahaya rembulan yang jernih itu
di matamu mengapa berubah meremang?
 
 

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (32)
Recent Activity:
.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar