Jumat, 19 April 2013

{ Budaya-Nusantara } Melvina Pascaline; komunitasab_dki@yahoo.com; KomunitasAB JOG; Abdu Kamil; Agus Prayogi; Ahmad Falak; Amran Ismail; Anita SE.; Anwar Mubarak; Arif Anggodo; Awang Prima; Benny Armadi; Billie Sahar; Bram Adrianus; Dimas; Ermita Arumsari; Ernie Aziz; Fitri Nurlaela; Hadi Poernomo; Hasanah; Hery Budiman; Irfan Muh; Mukti Widyastuty; Nicky Sapujagad; Nugroho Saleh; Ofie Sofyan; Pingkan Prajogi; Pingkan Prajogi; Poppy Erlina; Putri Afriani; Regina,FiestaJKEAA; Rifi Aranti drg; Ridha Faried; Sri Praptiwi; Steisianasari Mileiva; Supriyadi Tree; Tri Sarwono Artadi

 

BAHAN BACAAN


Ketika Petani Kehilangan Capungnya;
Sebuah Reportase Renungan tentang Masyarakat Adat dan Perubahan Iklim
.


Akhir tahun 2010, untuk ketiga kalinya selama merantau ke tanah Jawa, kembali saya menginjakkan kaki di Kampung Mellengnge bagian barat, Desa Cinnongtabi,Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Kamping ini terletak disebalah timur kota Sengkang, ibukota kabupaten Wajo, bersisian ke arah utara dengan kota tua Tosora, bekas ibukota kerajaan Wajo hingga Abad XVII.

Untuk mencapai kampung ini, saya harus melewati perjalanan darat sekitar 30 kilometer dilanjutkan dengan jalan kaki hingga 5 kilometer dari pinggir jalan aspal. Meski dari kampung ini kita bisa menatap kemegahan kota Sengkang dengan tower-tower pemancar jaringan teleponnya, namun untuk menuju kampung ini kita harus menempuh jalan memutar dari Sengkang ke Sempangnge – Paria – Mellengge atau dari arah selatan dengan rute Sengkang – Tampangen – Tosora – Mellengnge. Jangankan jalan aspal, sekedar jalan tanah yang terbukapun tidak ditemui, kecuali jalan setapak berupa pematang sawah yang berlabirin yang menghubungkan Kampung Mellengnge disisi timur dengan kampung Mellengnge sisi barat.

Setelah mata dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah yang hijau dan segar, kaki saya juga dimanjakan dengan bermain air sawah dan sungai-sungai kecil yang terus mengalir kala itu. Maklum saat baru saja turun hujan, jadi air melimpah. Berbanding terbalik dikala musim kemarau, petak-petak sawah yang tadinya becek dan berlumpur akan berganti retakan-retakan unik mirip puzzle yang sambung menyambung.

Dibanding saat pertama kali saya tinggalkan kampung ini, selain penduduknya yang banyak tidak saya kenali lagi dan deretan rumah-rumah yang banyak berubah, kondisi alamnya kampung ini juga banyak berubah. Hal yang paling nyata telah banyak berubah (bahkan tidak lagi saya temui sama sekali) adalah tidak adanya kerbau-kerbau berkeliaran di hamparan sawah atau dipadang rumput seperti 17 tahun yang lalu. Hamparan rumput tempat saya bermain dulupun kini juga telah berubah, tidak lagi hijau dan segar seperti dulu. Rumput yang ada sekarang telah pucat dan hijaunya lebih menyerupai daunan layu.

Ikhwal perubahan ini saya tanyakan pada paman saya. Ia hanya tersenyum penuh arti, seolah paham jika saya memiliki segudang pertanyaan. Kemana gerangan kerbau-kerbau itu? Bersembunyi dimanakah rumput-rumput hijau itu? Sedang dimana gembala-gembala yang berwajah polos dan bersahaja itu? Kemanakah gundukan-gundukan kotoran kerbau yang berwarna hitam gelap dan selalu dikerubuti lalat itu? Kemanakah indahnya alam kampungku?
Serentetan pertanyaan yang saya ajukan bertubi-tubi akhirnya memaksa paman saya buka mulut, memberi jawaban, mesti jawaban sangat singkat dan masih mengandung tanda tanya baru. Ia hanya menjawab, "coba kamu lihat rumput-rumput itu, masih adakah capung dan belalang yang berkejaran dan hinggap disana" tutur pamanku dalam bahasa Bugis lengkap dengan aksennya yang khas.

Jawaban tersebut bukanlah jawaban bagiku, melainkan kalimat tanya yang bernada perintah bagiku.  Saat pamanku kucecar kembali, dengan diplomatis ia menjawab "bukannya kamu anak sekolahan?, masak harus diajari saya yang cuma tamatan sekolah rakyat ini". Jawaban yang justru menjadi sindiranbagi saya, menelanjangi kebodohan saya yang tak lagi mampu membaca tanda-tanda alam. Tidak seperti mereka yang menjadikan alam sebagai sekolah dan gurumereka. Aku malu!

Dua minggu kemudian, saat saya tiba kembali di Yogyakarta, kota rantauan saya. Sindirandan perintah paman saya tersebut terus tergiang. Memaksaku mencari jawaban,memuaskan rasa ingin tahuku. Lewat berbagai bacaan yang saya lumat, tahulah saya jika ternyata antara capung, rumput dan kerbau memiliki rantai hubungan yang sangat erat. Keberadaan capung dipadang rumput ternyata selalu menjadi patokan para gembala- untuk memilih lokasi rumput yang layak dimakan oleh kerbau-kerbaunya. Jika direrimbunan atau hamparan rumput yang tersedia terdapat banyak capung dan belalang itu berarti rumput itu sehat dan layak dimakan sang kerbau, para gembala akan menggiring ternaknya kesana.

Hilangnya capung di hamparan rumput di kampung saya ternyata karena dipaksa oleh manusia. Saat pepohonan terus ditebangi, maka hamparan rumput akan terkena sinar matahari langsung dan cepat kering.
Embun-embun dipagi hari pun akan cepat menguap dan itu berarti sang capung tak lagi sempat menitipkan telurnya didalam bulir embun tersebut hingga menetas dan menjadi anakan capung. Dengan demikian proses kembang biak capung terganggu. Diluar itu kadang para capung dan belalang sengaja diusir atau diracuni oleh para manusia.Saat petani memberatas gulma dan rumput di sawah dan padang rumput dengan semporotan bahan kimia pembasmi gulma dan rumput, maka rumput itu tidak lagi segar dan sehat dimakan sang ternak. Tidak sehat juga untuk sang capung dan belalang, parahnya bahan kimia itu akan berevolusi pada anakan rumput yang akan tumbuh pada priode-priode berikutnya. Jadilah sepanjang masa, rumput itu  beracun dan tidak sehat bagi kerbau dancapung. Maka wajar jika capung hilang.

Kemampuan membaca alam dan mengerti alam inilah yang dinginkan paman saya untuk saya miliki, mungkin itulah alasannya, mengapa beliau selalu memaksa saya mengitari hamparan sawah dan padang rumput ditengah kampung itu setiap kali saya bertandang ke rumahnya. Bagi paman saya dan masyarakat Bugis sekitarnya, tanda-tanda alam tersebut adalah bentuk kearifan lokal yang mereka bangun secara empiris, berdasarkan pengalaman-pengalaman keseharian.

Hilangnya capung dan belalang itu bagi paman saya yang seorang petani adalah bencana besar. Bahkan sebuah aib dimata para leluhur mereka, mereka dianggap tidak becus menjaga alam, menjaga kelestarian alam dan segala mahluk didalamnya. Tak hanya paman saya yang merasa kehilangan dan ditampar aib, para petani lainnya juga merasakanya, termasuk para gembala kerbau. Bahkan gembala kerbau tidak hanya kehilangan capung dan belalangnya, melainkan juga kehilangan pada rumput yang segar dan lembut serta tidak gatal. Sehingga mereka bisa tidur pulas beralaskan rumput yang hijau, seger dan bersih. Bahkan untuk sekedar rebahan atau selonjoran kaki sambil bermain suling bambupun sudah tak dapat mereka nikmati. Ironis!

Demi menjaga keberadaan capung ditengah sawah dan hamparan rumput, leluhur orang Bugis selalu mengajarkan pada anak cucunya agar tidak menangkap capung. "Ayo anak-anak, berhenti menangkap joli-joli  itu, nanti kamu joli'-joli'". "Anak-anak, ayo berhenti menangkap Capung itu,nanti kamu bisa mencret", begitu kalimat sakti para orang tua kami. Lucunya, kami menurut dan betul-betul takut dengan peringatan tersebut. Meski kami tak pernah mencoba untuk membuktikannya.

Kata joli-joli memang memiliki fonem dengan kata joli'-joli' (senada dengan kata Kali' orang betawi). Menangkap capung sesungguhnya adalah permainan, bagi kami. Tetapi bagi masyarakat Bugis dan lingkungan adat Bugis. Capung tak sekedar hewan kecil yangtak berdaya. Ia adalah simbol kesuburan, simbol kemakmuran. Tak ada capung yangberkeliaran di padang savana kami, itu berarti rumput di padang itu sudah tak segar dan sehat lagi untuk pakan ternak. Belakangan, setelah kami dewasa, barukami sadari. Ternyata, mitos-mitos ini sengaja ditanamkan orang tua kami, demi menjaga kelestarian sang Capung. Juga keseimbangan ekosistem alam, antara rumput, capung, ternak dan manusia.

Kata orang tua kami, boleh menangkap capung, tapi tidak untukdipelihara. Maka setelah ditangkap, segeralah bebaskan kembali. Sebelum dibebaskan, ada ritual khusus yang harus kami lakukan. Masing-masing capungyang kami tangkap kami arahkan untuk menggigit pusar kami. Inilah bentuk permintaan maaf kami pada sang capung, karena sempat kami tangkap. Konon, dengan digigitnya pusar kami oleh sang capung, kutukan mencret itu hilang dengan sendirinya. Berani coba?

Yogyakarta, 15 April 2013
Oleh : Suryadin Laoddang
 
----------------------
Suryadin Laoddang

MARESO TENRI ESO, MARESSA TENRI ESA, MAREWA TENRI EWA

http://www.suryadinlaoddang.com/    || email     : suryadinlaoddang@yahoo.com || linkedin : Suryadin Laoddang
facebook  : Suryadin Laoddang || Twitter :
@SastraBugis 

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
Egroups dikendalikan http://www.kokpasir.com  .
Sumbangan bahan-bahan bacaan diperlukan.
Terima kasih.
MARKETPLACE


.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar