Kamis, 18 April 2013

[islam-kristen] 20april

 

"PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal"

(Kis 9:31-42; Yoh 6:60-69)

"Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yoh 6:60-69), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Para rasul pun ikut bingung dan gusar juga hatinya ketika Yesus mengajarkan bahwa `roti yang Ia berikan adalah dagingNya'. Mereka bersungut-sungut, maju kena mundur kena, artinya tidak percaya dan kemudian meninggalkan Yesus kembali ke pekerjaan sebagai nelayan malu, sebaliknya maju terus mempercayai perkataanNya yang sulit difahami dan berat juga tidak mudah. Maka ketika Yesus bertanya kepada mereka perihal kebingungan mereka, Petrus akhirnya atas nama para rasul menjawab :"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkatan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah". Dengan kata lain para rasul 'menyerah' alias mengimaninya dengan mantap. Beriman memang berarti mempercayai pada sesuatu yang tidak jelas, yang tak mungkin difahami atau dimengerti secara tuntas dengan akal sehat. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, sejauh mana kita setia pada pengakuan ini. Dalam keragu-raguan atau kebingungan hendaknya kita mengarahkan diri pada Tuhan, pada Penyelenggaraan Ilahi. Ingatlah dan sadari bahwa dalam diri kita sendiri juga ada sesuatu yang tak dapat kita lihat dengan indera tubuh kita ini namun kita mempercayainya, demikian juga kita sering percaya begitu saja kepada orang lain, yaitu ketika disuguhi makanan tidak mempertanyakan melainkan langsung disantap. Dengan kata lain kita memiliki pengalaman mendalam perihal beriman, maka hendaknya pengalaman itu terus diperkembangkan dan diperdalam dalam hal-hal lain dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingat dan sadari kita juga begitu percaya akan apa yang dikatakan oleh para guru kita di sekolah-sekolah, maka jika kepada orang saja kita mudah percaya, hendaknya kita juga percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi dalam kehidupan ini.

· "Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup" (Kis 9:40-41). Para murid yang telah mendengarkan perkataan atau pengajaran para rasul percaya bahwa para rasul, utusan Allah, dapat melakukan sesuatu yang luar biasa atau mujizat. Dalam kisah ini diceriterakan bahwa Petrus membangkitkan orang yang telah mati. Percaya kepada utusan Allah itulah yang membangkitkan. Mungkin kita belum mati secara fisik, melainkan mengalami kelesuan hati, jiwa atau pikiran, dan dengan demikian tidak atau kurang bergairah dalam hidup dan bekerja. Jika kita mengalami demikian marilah dengan rendah hati kita minta bantuan pada utusan-utusan Allah, dan sebagai orang Katolik dalam hal ini pada umumnya umat minta bantuan kepada para imam atau pastor. Kehadiran imam atau pastor di tengah-tengah umat pada umumnya menggairahkan dan membangkitkan hidup umat. Maka dengan ini kami mengharapkan rekan-rekan imam atau pastor untuk dengan murah hati dan jiwa besar suka mendatangi atau mengunjungi umat. Misalnya setelah mempersembahkan Perayaan Ekaristi, entah didalam gereja/kapel atau lingkungan/stasi segera menyapa dan memberi salam kasih/sentuhan kasih kepada umat, sebagaimana juga sering dilakukan dengan memberi berkat pada anak-anak setelah penerimaan komuni kudus. Kepada anda sekalian kami ingatkan untuk saling memberi sentuhan dan sapaan kasih, agar kita semua hidup dengan bergairah, gembira dan dinamis.

"Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya."

(Mzm 116:12-15)

Ign 20 April 2013

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
MARKETPLACE


.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar